Menanggulangi Paparan Pestisida Berlebih di Lingkungan

0
Pestisida
Pestisida merupakan substansi atau campuran substansi yang ditujukan untuk melindungi, menghancurkan, atau mengontrol organisme penggaggu, digunakan secara meluas terutama di sektor pertanian, industri, dan perumahan (Ortiz-Hernandes dkk, 2013).

Menurut US Environmental Protection Agency, ada beberapa penggolongan pestisida. Penggolongan tersebut beserta contohnya antara lain: 1) akarida dan pestisida antara lain (1,1-Bis(chlorophenyl)-2,2,2-trichloroethanol), malation, endosulfan untuk mengatasi serangga, tikus, ulat, dsb; 2) algasida antara lain oksifluorfen, kaslium hpoklorit, diuron untuk mengatasi alga; 3) fumigan antara lain etilen oksida dan propilen oksida; 4) fungisida antara lain dodin, maneb, ferbam, captan untuk mengatasi jamur; 5) herbisida antara lain asam peroksiasetat untuk mengatasi gulma; 6) mikrobiosida antara lain hidrogen peroksida untuk mengatasi bakteri penganggu.
Tidak adanya aturan dalam menggunakan pestisida menyebabkan penggunaan pestisida berlebihan dan menumpuk di alam. Pestisida yang tumpah, bocor, dan kecelakaan pestisida lain menyebabkan semakin menumpuknya pestisida di alam, akibatnya pestisida banyak mengendap di tanah dan air.
menyebabkan paparan pestisida ke manusia semakin besar.

Secara umum pestisida yang berlebihan dapat menganggu keseimbangan ekosistem. Namun menurut Mesaggne dkk., 2014 pestisida tertentu dapat bersifat 10.000 x kebih beracun di dalam tubuh manusia. Manusia tidak hanya terpapar pestisida secara langsung tetapi juga melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi. Akibatnya manusia dapat menyimpan dan mengakumulasi pestisida di dalam jaringan lemak (Agrawal dkk., 2010 dalam Ortiz-Hernandez dkk., 2013). Efek dari paparan pestisida  yang berlebihan dapat mengakibatkan tremor, kejang, mual, diare, pingsan, peradangan kulit, kerusakan otak permanen, dan kematian (Endosulfan Fact Sheet).
Selain itu, pestisida yang tertelan atau pun terpapar kulit juga dapat menyebabkan gangguan kerja enzim asetilkolin esterase, aspartat transaminase, alanin transaminase, dan alkalin fosfatase (ALP). Kerusakan tubuh lain akibat terpaparnya pestisida adalah ganggua kerja saraf, ketidakmampuan untuk beristirahat dengan baik, kelelahan otot, radang selaput lendir, kerusakan janin, dan kanker.

Antisipasi untuk mengatasi masalah paparan pestisida berlebihan
Usaha mengurangi pestisida di lingkungan
Bioremediasi
Bioremediasi merupakan teknik pembersihan lingkungan dari kontaminasi berbagai macam senyawa senobiotik (senyawa kimia buatan) dengan menggunakan makhluk hidup, agar kontaminasi tersebut menjadi tidak beracun atau kurang beracun keberadaannya di alam. Bioremediasi ini dinilai lebih aman, lebih hemat biaya, dan lebih tidak beracun daripada membersihkan lingkungan dengan teknik fisik atau kimiawi.
Bioremediasi dapat dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu; biostimulasi, bioaugmentasi, dan fitoremediasi. Biostimulasi merupakan metode pembersihan kontaminan di lingkungan dengan cara mempercepat atau memperbanyak pertumbuhan mikroorganisme di lingkungan tersebut. Menambahkan nutrisi untuk menstimulasi pertumbuhan mikroorganime merupakan salah satu metode biostimulasi. Laporan oleh Tortella dkk., 2010 penambahan pupuk anorganik (N, P, K) pada konsentrasi 0.1% and 0.5% dapat meningkatkan degradasi klorpirifos secara signifikan. Sedangkan menurut Afify dkk., 2013 iradiasi jamur Trichoerma harzianum dengan menggunakan sinar gamma dosis rendah dapat meningkatkan degradasi pestisida oksamil sebanyak 10%.
Bioaugmentasi merupakan proses penambahan jumlah atau pun kemampuan mikrobiota untuk meningkatkan proses degradasi, yang termasuk di dalamnya adalah rekayasa genetika. Penelitian yang dilakukan oleh Diez dkk., 2012, dengan menambahkan jamur Anthracophyllum discolor, dapat meningkatkan degradasi pestisida sebanyak 18%.
Sedangkan fitoremediasi merupakan menyerap, memindahkan, dan membuang atau mengubah senyawa racun di alam menjadi tidak bercun, dengan menggunakan tanaman. Menumbuhkan tanaman perdu di daerah yang tercemar pestisida, memanennya, kemudian membuah tanaman tersebut merupakan metode mudah untuk mengurangi cemaran pestisida dan menambah estetika di lingkungan.
Fitoremediasi, untuk dekontaminasi pestisida dan estetika. Credit: homedesign.com

Penciptaan kondisi yang baik untuk pertumbuhan organisme seperti penambahan kompos, pupuk kandang, sisa medium pertumbuhan jamur, dan limbah biogas juga merupakan metode untuk mempercepat bioremediasi pestisida. Meningkatkan kelembaban, menentukkan pH, dan suhu merupakan metode lain untuk meningkatkan kekayaan mikroorganime dan meningkatkan proses bioremediasi (Hindumathy dan Gayatri, 2013).

Usaha mencegah penambahan akumulasi pestisida
  1. Menggunakan pestisida dari bahan mikroorganisme. Beberapa mikroorganisme yang dapat digunakan untuk mengontrol hama pengganggu tanaman antara lain: Strepmyces sp. strain K61, Bacillus subtilis MBI 600, Ampelomyces quisqualis isolat M-10, Candida oleophila isolat I-182, Pseudomonas syringae, Giocladium catenulatum strain J446, Pseudomonas fluorescens strain PRA-25, Bacillus subtilis strainQST 713, Pseudomonas chlororaphis strain 63-28, Coniothyrium minitans  strain CON/M/91-08, Streptomyces lydicus WYEC 108, Pantoea aglomerans strain C9-1, Bacillus mycoides isolat J, Pantoea agglomerans strain E325, Pythium oligandrum DV74,Trichoderma gamsil strain ICC 080, Trichoderma asperellum strain ICC 012, Trichoderma hamatum siolat 382, Pseudomonas fluorescens strain CL145A, Bacillus subtilis strain C-9060, Trichoderma virens strain G-41, Aureobasidium pullulans strain DSM 14940 dan 14941. 
  2. Menggunakan pestisida alami. Senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mengontrol hama pengaggu tanaman antara lain belerang, kaolin minyak jojoba saponin dari ekstrak Quillaja saponaria, lemon.
  3. Menambahkan mikroorganisme yang dapat menguraikan pestisida di makanan. Penelitian yang dilakukan oleh Azizi 2012 menyatakan bahwa Debariomyces, Micrococcus dan Lactobacillus memiliki kemampuan mengurai DDT dan HCH. Juga penambahan campuran mikrobia pada sosis dapat menurunkan konsentrasi HCH. Penemuan lain adalah bakteri gram positif Lactobacilli, Streptococci dan khamir dapat mendegradasi DDT dan DDE pada keju Roquefort biru.
  4. Menciptakan mini mikronishia dengan menggunakan kopi. Di beberapa negara kopi dibuang untuk menjaga kestabilan harga, seperti di Meksiko membuang 5% dari total eksport kopi (sekitar 12.000 ton). Penelitian di laboratorium diketahui bahwa, kopi merupakan produk pertanian yang mengandung karbohidrat, vitamin, mineral, protein, dan alkaloid, yang dapat digunakan untuk menumbuhkan biofilm oleh bakteri (Franca dkk., 2005 dalam Barragan-Huerta dkk., 2007). Kopi dan biofilm ini merupakan mini mikronishia yang dapat digunanakan untuk menyaring pestisida DDT dan endosulfan. Hasilnya bakteri dan mikroorganisme lain yang terdapat pada biofilm tersebut dapat mengurai pestisida DDT dan endosulfan (Barragan-Huerta dkk, 2007).
  5. Mengembangkan kembali predator alami. Dari sekolah dasar kita sering belajar predator untuk mengendalikan hama alami, seperti burung pemangsa serangga, kelelawar dapat memangsa ribuan serangga dalam semalam, kumbang betina dapat memangsa kutu daun. Kita dapat menginstal rumah predator di halaman atau sawah kita. Atau membeli bibit predator di majalah pertanian (EPA, 2005)
  6. Pestisida biokimi termasuk feromon dan hormon serangga. Feromon merupakan bahan kimia yang dilepaskan oleh berbagai macam organisme (termasuk serangga), sebagai alat untuk berkomunikasi dengan organisme lain yang se-spesies. Feromon dapat digunakan untuk menjebak serangga pengganggu tanaman. Hormon serangga juvenil akan mengganggu perkembangan serangga normal dan fungsi reproduksi dengan mekanisme seperti mekanisme pada pestisida.
  7. Konsumsi makanan liar. Mengkonsumsi makanan yang masih tumbuh liar, seperti mengkonsumsi buah-buahan yang tumbuh di hutan, memancing di daerah pegunungan, atau berburu, akan mengurangi paparan pestisida di tubuh. Namun hati-hati untuk tidak memancing ikan di daerah pembuangan air dari lahan pertanian atau tanaman di sekitar tersebut, karena di daerah tersebut juga terpapar pestisida.
  8. Manumbuhkan sendiri sumber bahan makanan. Menumbuhkan sendiri sumber bahan makanan seperti sayur-sayuran, bumbu dapur, buah-buahan, tanpa menggunakan pestisida kimia, dapat mengurangi paparan pestisida kimia.
  9. Mencuci buah dan sayur dengan baik. Mencuci sayur dan buah dengan air mengalir, menyikatnya, atau pun mengupasnya, jika dapat dikupas. Mengambil tindakan ini dapat membung residu pestisida yang berlebihan di sayur atau buah. Namun sebagai catatan, mencuci dan menggosok sayur dan buah ini tidak dapat membuang pestisida yang telah diserap sayur dan buah tersebut. Selain itu, membuang atau mengurangi konsumsi lemak dan kulit ikan, juga dapat mengurangi timbunan pestisida. Hal ini karena pestisida banyak di simpan di jaringan lemak dan kulit ikan (EPA, 2005).

Pustaka:
Afify, Abd El-Moneim MR, Mohamed A Abo-El-Seoud, Ghada M Ibrahim, dan Bassam W Kasse. 2013. Stimulating of Biodegradation of Oxamyl Pesticide by Low Dose Gamma Irradiated Fungi. J Plant Pathol Microb ISSN:2157-7471
Anonim. 2014. INDEX to PESTICIDE TYPES and FAMILIES and PART 180 TOLERANCE INFORMATION of PESTICIDE CHEMICALS in FOOD and FEED COMMODITIES. US Environmental Protection Agency Office of Pesticide ProgramsAzizi, Aslan. Bacterial-Degradation of Pesticides Residue in Vegetables During Fermentation. www.intechopen.com
Barragan-Huerta, C. Costa-Peres, J. Peralta-Cruz, J. Barrera-Cortez, F. Esparza-Garcia, R. Rodriguez-Vaquz. 2007. Biodegradation of organochlorine pestisdes by bacteri grown in microniches of the porous structure of green bean coffe. International Biodeteriation & Biodegradation 59: 239-244.
Damalas, Christos A. dan Ilias G. Eleftherohorino. 2011. Pesticide Exposure, Safety Issues, and Risk Assessment Indicators Int. J. Environ. Res. Public Health, 8
Diez M.C., Elgueta S., Fernandez S. dan Gallardo F. 2012. Bioaugmentation of biobed biomixture with fungal pellets of Anthracophyllum discolor to improve pesticides degradation. New Biotechnol. 29, S195.
Endosulfan Fact Sheet
EPA. 2005. Citizen's Guide to Pest Control and Pesticide Safety. United State Environmental Protection Agency.
Franca . S., Oliveira L. S., Mendoca J. C. F., Silva X. A. 2005. Physical and chemical atttributes of defedtiv crude and roasted coffee beans. Food Chemistry 90:89-94. Dalam Barragan-Huerta, C. Costa-Peres, J. Peralta-Cruz, J. Barrera-Cortez, F. Esparza-Garcia, R. Rodriguez-Vaquz. 2007. Biodegradation of organochlorine pestisdes by bacteri grown in microniches of the porous structure of green bean coffe. International Biodeteriation & Biodegradation 59: 239-244.
Hindumathy C.K. dan Gayathri V. 2013. Effect of Pesticide (Chlorpyrifos) on Soil Microbial Flora and Pesticide Degradation by Strains Isolated from Contaminated Soil.  J Bioremed Biodeg, 4:2
Ortiz-Hernandez Ma. Laura, Enrique Sanchez-Salinasi,  María Luisa Castrejon Godinez, Edgar Dantan Gonzales,  Elida Carolina Popoca Ursino. Mechanisms dan stratedies for pesticide biodegradation : opportunity for waste, soils and water cleaning. Rev. Int. Contam. Ambie. 29: Message, Robin, Nicolas Defarge, Joël Spiroux de Vendômois, dan Gilles-Eric Séralini. 2014.
Major Pesticides Are More Toxic to Human Cells Than Their Declared Active Principles
BioMed Research International 85-104
Kumar,
Ranjit,
Arun Kumar, Mohammad Ali. 2012.
Effect of Curcuma longa on Ovary of Endosulfan Exposed mice: Medicinal Plants and Pesticide Paperback

Tortella G.R., Rubilar O., Cea M., Wulff C., Martínez O. dan Diez M.C. 2010. Biostimulation of agricultural biobeds with npk fertilizer on chlorpyrifos degradation to avoid soil and water contamination. J. Soil Sci. Plant. Nutr. 10, 464-475.
www.homedesign.com

Mengatasi Alternatif Pengawet Makanan Alami, Aman, dan Tidak Menimbulkan Alergi

0
Makanan yang segar, atau makanan dengan minimal pengolahan, dengan penampakkan dan rasa yang segar, serta aman bagi kesehatan merupakan makanan yang menarik untuk dikonsumsi. Keamanan makanan merupakan hal yang penting saat ini karena kualitas bahan pangan meningkat saat ini dan konsumen semakin peduli dengan apa yang mereka konsumsi (Karthik dkk., 2013).
Sumber kontaminasi bahan pangan yang dapat menyebabkan pembusukkan pangan dapat berasal dari baku, spora yang tahan terhadap pemanasan, atau pun kontaminasi ulang setelah produk menjadi bahan jadi atau bahan siap makan. Kontaminasi ulang dapat terjadi oleh Listeria monocytogenes pada produk makanan seperti daging siap makan, susu, atau produk olahan lain. Listeria monocytogenes merupakan organisme psikotropik yang mampu bertahan dan tumbuh di suhu refrigerator.  Ia merupakan bakteri patogen yang dapat menginfeksi bayi yang baru lahir, ibu hamil, orang tua, dan orang dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Untuk mencipatkan makanan agar tetap nampak segar dan melindunginya dari pembusukkan diperlukan pengawet makanan. Pengawet kimia sintesis seringkali diklaim tidak sehat untuk konsumsi jangka panjang dan terkadang memicu munculnya alergi (Suganthi dkk., 2012). Pengawetan secara fisik seperti penggunaan suhu tinggi dan tekanan tinggi, dapat menyebabkan fisik makanan rusak dan menjadi berubah mengenai aroma, rasa, tekstur, dan kandungan alami makanan (Rasooli, 2007). Pengawetan secara khusus yang telah dilakukan adalah menggunakan bakteri asam laktat (BAL), juga dapat mengubah rasa dan aroma produk makanan tertentu, disebabkan senyawa lain yang diproduksi oleh BAL seperti senyawa asam organik mengubah rasa dan aroma tersebut (Sobrino dan Martin, 2008).
Nisin

Nisin merupakan polipeptida bakteriosin yang diproduksi oleh Lactococcus lactis ssp. lactis selama fermentasi. Nisin digunakan pada makanan dengan proses pemanasan dan berpH rendah (Prombutara dkk, 2012). Nisin umumnya memerangi bakteri gram positif, termasuk bakteri yang membentuk spora, karena kemampuan nisin yang mampu menyerap masuk ke dalam membran sel pada strain bakteri tertentu yang sensitif terhadap nisin tersebut (Li dkk., 2005, Prombutara dkk., 2012).
Dibandingkan dengan pengawet kimia sintesis, nisin memiliki beberapa keuntungan yaitu:1) tahan terhadap suhu tinggi, suhu ruang pendingin, dan pH rendah, 2) tidak mengubah flora di saluran pencernaan manusia; 3) tidak meracuni manusia; 4) tidak mengubah aroma, rasa, dan tekstur makanan; 5) tidak menimbulkan alergi.
courtesy: Slootweg dkk., 2013
Produksi nisin dapat dilakukan dengan menumbuhkan bakteri penghasil nisin kemudian mengekstrak nisin tersebut. Pemurnian nisin dapat dilakukan dengan menggunakan kelengkapan peptida kationik dan amfifilik. Metode yang sering digunakan adalah isolasi, pemurnan termasuk presipitasi garam dari supernatan kultur, pertukaran kation, kromatografi, dan kebalikan dari-high performance liquid chromatography (HPLC). Keterbatasan produksi nisin, antara lain dapat dilakukan dengan memproduksinya dengan menggunakan hasil-hasil pertanian seperti hidrolisat kentang dan ekstrak fermentasi barley. Berbagai strategi untuk memurnikan juga dikembangkan (Suganthi dkk., 2012).
Kombinasi Nisin untuk meningkatkan efektivitas penggunaan nisin
Nisin dapat ditingkatkan kualitasnya dengan metode-metode berikut: 
  1.  Kombinasi dengan suhu dingin. Penelitian Karthik dkk., 2013 nisin yang dikombinasikan dengan penyimpanan bahan makanan pada suhu rendah –4°C dan –20°C, dapat mengurangi pertumbuhan atau munculnya kembali organisme patogen setelah disimpan selama 30 hari. mikroorganisme patogen tersebut adalah Total heterotrophic bacteria , Total coliforms, E. coli, V. cholera, V. parahaemolyticus, Salmonella sp, Shigella sp. menunjukkan hasil nol  pada pemeriksaan hari ke 30.
  2. Kombinasi Nisin, CO2, dan pendinginan. Penelitian yang dilakukan oleh Naas dkk., 2013 menemukan bahwa penggabungan Nisin (500 IU/mL) dengan100% CO2 dengan metode vakum dan di simpan di refrigerator, mampu mengurangi populasi dan pertumbuhan yang berlebihan bakteri patogen Listeria monocytogenes pada daging siap makan turkey bologna selama 42 hari. 
  3. Pelepasan nisin dengan ukuran nano. Efektifitas nisin akan berkurang setelah nisin menyentuh makanan, yaitu akibat interaksi dengan makanan tersebut, interaksi dengan lemak dan protein, dan inaktivasi nisin oleh degradasi enzim (Prombutara dkk., 2012). Metode Solid Lipid Nanoparticles (SLN) yaitu membungkus partikel nisin dengan lemak padat, dapat melindungi partikel nisin dan melepaskan nisin tersebut secara berkelanjutan di makanan ().
  4. Nisin dapat ditambahkan pada produk yang mengandung BAL. Yoghurt dan keju merupakan makanan yang mengandung BAL. Penambahan nisin pada makanan yang mengandung BAL ini dapat menambah umur simpan produk, yaitu tahan sampai tiga bulan pada suhu –21°C, dan BAL tersebut dapat membantu pelepasan nisin ke lingkungan dengan asam-asam yang diproduksi oleh BAL tersebut (Plekova dkk., 1996 dalam Sobrino).
  5. Nisin dan karton kemasan makanan. Nisin merupakan senyawa yang mudah menempel pada permukaan suatu benda, termasuk permukaan kemasan produk dan membunuh bakteri patogen di sekitar kemasan tersebut selain sebagai pengawet makanan. Oleh karena itu, pengembahan bahan kemasan (seperti kemasan berbasis selulosa, polietilen, polipropilen) kedepan diharapkan dapat dikombinasikan, atau pun dilapisi dengan nisin (Sobrino, 2008).
  6. Nisin dan pemanasan. Nisin diketahui sebagai bahan pengawet alami yang tahan panas. Penambahan nisin pada pemanasan susu pada suhu 80–100°C dapat mengurangi keberadaan Bacillus cereus hingga 40% . Sedangkan dengan adanya nisin sebanyak 4000IU/ml dengan pemanasan pada suhu 130°C dapat mengurangi keberadaan Bacillus stearothermophillus hingga 21% (Penna dan Moraes, 2002 dan Wandling dkk., 1999). Hal ini memungkinkan untuk merendahkan suhu yang digunakan untuk pasterurisasi atau pun suhu pengawetan lain, sehingga makanan tidak rusak.
  7. Kombinasi nisin dan antimikroba lain. Penggunaan nisin dengen antibamikroba lain, sistem laktoperoksidase (SLP) misalya, dapat mengatasi masalah bakteri yang kebal terhadap antimikroba (Sobrino dan Martin, 2008). Penggabungan dengan pengawet alami dari tumbuhan, fitopreservatif, seperti vanili dilaporkan dapat menonaktifkan jamur pada yoghurt yang berisi potongan buah segar, tetapi tidak dapat mencegah pembusukkan pada campuran yoghurt tersebut jika terjadi pembusukkan.
  8. Nisin dikombinasikan dengan tekanan tinggi. Penambahan nisin dikombinasikan dengan tekanan tinggi dilaporkan dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme pada makanan, karena luka atau kerusakan pada mikroorganisme tersebut memudahkan ia lebih bereaksi dengan nisin. bakteri gram negatif seperti Escherichia coli atau Pseudomonas fluoresence menjadi tidak aktif karena pengawetan dengan metode tersebut. Begitu juga gram positif seperti Lactococcus innoqua juga menjadi tidak aktif, meskipun sebagian besar bakteri gram positif tidak terpengaruh (Black dkk., 2005 dalam Sobrino dan Martin, 2008).

Pustaka
Karthik, Ramachandran, Subashchandrabose Gobalakrishnan, Ajmath Jaffar Hussain, dan Radhakrishnan Muthezhilan. 2013. Efficacy of Bacteriocin from Lactobacillus Sp. (AMET 1506) as a Biopreservative for Seafood’s Under Different Storage Temperature Conditions. Journal of Mpdern
Black E.P., Kelly, A.L., dan Fitzgerald G.F., 2005. The combined effect of high pressure and nisin on inactivation of microorganisms in milk. Innovative Food Science and Emerging Technology. 40: 237-242. Dalam Sobrino-Lopez, A. dan O.Martin-Belloso. 2008. Use od nisin an other bacteriocins for preservation of dairy products. International Dairy Journal 18: 329-343
Li, Tiejing, Jin Tao, Fu Hong. 2005. Study on The Inhibition Effect of Nisin Study on The Inhibition Effect of Nisin. Biotechnology Vol. 2, No. 3, pp 59–65
Naas, Hesham, Rose Martinez-Dawson, Inyee Han, dan Paul Dawson. 2013. Effect of combining nisin with modified atmosphere packaging on inhibition of Listeria monocytogenes in ready-to-eat turkey bologna. Poultry Science  92 :1930–1935.
Prombutara, Pinitphon, Yokruethai Kulwatthanasal, Nuttapun Supaka, Issara Sramala, Supat Chareonpornwattana. 2012. Production of nisin-loaded solid lipid nanoparticles for  sustained antimicrobial activity. Food Control 24:184-190
Penna T.C. F. dan Maroes D. A. 2002. The influence of nisin on thermal resistence of Bacillus cereus. Journal of Food Protection 65: 415-418. Dalam Sobrino-Lopez, A. dan O.Martin-Belloso. 2008. Use od nisin an other bacteriocins for preservation of dairy products. International Dairy Journal 18: 329-343
Rasooli, Iraj. 2007. Review. Food Preservation – A Biopreservative Approach. ©2007 Global Science Books
Slootweg, Jack C., Steffen van der Wal, H. C. Quarles van Ufford, Eefjan Breukink, Rob M. J. Liskamp, dan Dirk T. S. Rijkers. 2013. Synthesis, Antimicrobial Activity, and Membrane Permeabilizing Properties of C-Terminally Modified Nisin Conjugates Accessed by CuAAC
Bioconjugate Chem., 24 (12), pp 2058–2066
Sobrino-Lopez, A. dan O.Martin-Belloso. 2008. Use od nisin an other bacteriocins for preservation of dairy products. International Dairy Journal 18: 329-343
Suganthi V., E. Selvarajan, C. Subathradevi, dan V. Mohanasrinivasan. Lantibiotic nisin: natural preservative from Lactobacillus lactis. International Research Journal of Pharmacy 3(1)
Wandling, L. R., Sheldon B.W., dan Foegeding P. M. 1999. Nisin in milk sensitizes Bacillus spores to heat to prevents recovery of survivors. Journal of Food Protecrion 62: 492-498. Dalam Sobrino-Lopez, A. dan O.Martin-Belloso. 2008. Use od nisin an other bacteriocins for preservation of dairy products. International Dairy Journal 18: 329-343

Pernahkah Kamu Minum Kombucha?

0
(Source: paleomagonline.com)
Kombucha merupakan minuman tradisional yang berasal dari fermentasi teh manis dengan menggunakan jamur, baik teh hitam maupun teh hijau. Rasa dari kombucha ini adalah sedikit manis, berkarbonasi, dan asam. Orang-orang percaya bahwa meminum teh ini dapat meningkatkan metabolisme tubuh, mengobati penyakit arthritis, kosntipasi, kanker, dsb. Teh ini mengandung asam glukonat, asam glukoronik, vitamin, asam amino, mikronutrien, fruktosa, ethyl-gluconate, asam oksalat, saccharic acid, asam keto glukonat, asam karbonat, dan komponen teh itu sendiri seperti katekin, flavin, flavonol dsb. Spesies jamur yang biasanya digunakan adalah Acetobacter aceti, Acetobacter pasteurianus, Gluconobacter oxydans dan khamir Saccharomyces sp.,Zygosaccharomyces kombuchaensis., Torulopsis sp., Pchia sp., Brettanomyces sp.
 Resep Mint dan LemonKombucha


 Bahan-Bahan: 1 cangkir air
1 cangkir kombucha (homemade or store-bought)
1/2 lemon, iris
1 enggam daun mint
1/2 buah timun, iris
Cara Membuat:
Mauskkan lemon dan daun mint ke dalam mangkok
Remas sedikit lemon dan daun mint sedikit dengan sendok kayu untuk mengeluarkan jus
Tambahkan 1 cangkir kombucha dan 1 cangkir air
Tambahkan potongan timun
Masukkan ke gelas dan sajikan segera
Resep ini untuk 2 porsi
(Credit: stepin2mygreenworld.com)
 
Source:
https://paleomagonline.com/wp-content/uploads/2014/08/Low-Sugar-Kombucha-Recipe-From-DHRF_TCBlr.pdf
http://www.stepin2mygreenworld.com/healthyliving/health/mint-and-lemon-kombucha/
Velicanskii, Aleksandra, Dragoljub Cvetkovic, dan Sinisa Marko. Characteristics of Kombucha fermentation on medicinal herbs from Lamiaceae family. Romanian Biotechnological Letters, Vol. 18, No. 1 2013.

Biosida dan Antimikroba Jerawat: Efek terhadap Bakteri Komensal pada Kulit dan Efektifitasnya (Part1)

1




Scholz, 2015
Apa itu Jerawat?
Jerawat berkaitan dengan ketidaknormalan fungsi kelenjar minyak terutama pada masa remaja (Nakatsuji dkk. 2009).  Hipersekresi hormon androgen menstimulasi sekresi sebum yang berlebihan di kelenjar minyak (Henderson et al., 2000). Sekresi sebum yang normal mengandung lemak, skualen, lilin, dan kolesterol baik secara bebas atau dalam bentuk ester atau trigliserida yang secara alami sebagai pelindung alami kulit (Schmidt dkk., 2011). Meskipun demikian, kelenjar minyak yang tidak normal karena dipengaruhi oleh hormon mengubah komposisi sebum dan menurunkan kandungan asam lenolenat (Anonim, 2009). Karena hal tersebut, fungsi pelindung alami kulit menjadi rusak. Sebagai tambahan, kekurangan asam lenolenat di folikel memicu pertumbuhan flora normal seperti Propionum acnes. perkembangbiankan P.acnes menyebabkan terjadi lesi peradangan dan gejala jerawat (Kim, 2008). Selain itu, Staphylococcus epidermidis dan Pitryosporum ovale juga hadir berpengaruh terhadap lesi jerawat (Rubenstein dan Sarah, 2014).
Mikroorgansime Penyebab Jerawat
Menurut Scholz, 2015 kulit memiliki flora normal yaitu resisten, transien, dan komensal, yang harus terjaga keseimbangannya. Jerawat Terjadi karena terjadi perubahan komposisi mikroorganisme, yaitu beberapa mikroorganisme patogen mendominasi.

Selain asam lenolenat, kulit memiliki mekanisme perlindungan yang lain seperti: lapisan kulit terluar, lapisan kulit berlemak, produksi lisozim, keasaman, defensin, dan bakteri komensal. Selain itu, di kulit terdapat mekanisme petahanan yaitu Histone Deacetylaces (HDAC’s) merupakan salah satu enzim yang diekspresikan di sel-sel kulit yang membantu menjaga kesehatan kulit dengan menyeimbangkan aktivitas asetilasi oleh enzim histon asetiltransferase pada pembentukkan kromatin dan juga memerankan peranan yang penting dalam pengaturan transkripsi gen. Pengurangan jumlah HDAC menyebabkan beberapa spesies bakteri menjadi over populasi. Penggunaan beberapa seyawa kimia juga dapat menyebabkan HDAC menjadi rusak, sehingga pertahanan kulit menjadi melemah.

Banyak mikroorganisme yang masih dapat menembus pertahanan kulit, sehingga masih diperlukan perlindungan dari antimikroba. Penggunaan antimikroba harus memiliki sifat-sifat berikut: 1) hanya melindungi kulit dari kontaminasi mikroorganisme patogen, 2) tidak mengubah mikrobiom kulit, 3) mendukung pertumbuhan bakteri baik di kulit, 4) melindungi HDAC dan mekanisme perlindungan lain di kulit.
Flora kulit (Grice dan Julia, 2011)


Penggunaan bahan-bahan alami lebih aman daripada bahan kimia. Bahan alami yang dapat digunakan antara lain: Termialia chebula Azadirachta indica, Vitex negundo, Annona squamosa, Cymbopogon citratus (Balakhrisnani dkk.,2011). Meskipun demikian penelitian yang membahas bahan-bahan alam tersebut masih terbatas untuk dapat digunakan. Penggunaan senyawa-senyawa berikut, dengan jumlah konsentrasi yang tidak berlebihan yang terdapat di produk-produk kecantikan atau pengobatan, rata-rata memerlukan waktu yang lama dalam mengatasi masalah jerawat, namun diharapkan dapat membantu mengatasi masalah jerawat dan tetap memepertahankan keseimbangan bakteri komensal kulit dan HDAC.


1.Treatmen Oral:
  • Oral Antibiotik
Penggunaan antibiotik minum harus hati-hati terutama untuk anak di bawah delapan tahun, ibi hamil, dan ibu menyusui. Beberapa antibiotik minum yang dapat mengatasi jerawat adalah Erythromycin 4.0 - 92%, Clindamycin 4.0 - 95%, Tetracycline 0 - 29.9%, Minocycline 0 - 0.6% Doxycycline, 0 - 9.5%, Co-trimoxazole 0 - 21.7% (Strauss dkk., 2007; Kathi, 2011).
  • Terapi Hormon Oral
Penggunaan obat minum untuk menyeimbangkan hormon di dalam tubuh dapat dilakukan dengan menggunkanan Combined Oral Contraceptive (COC), Spironolactone, dan Flutamide (Truter, 2009)
2. Treatmen Topikal di Permukaan Kulit
  • Antibiotik Topikal
Kombinasai menggunakan kedua antibiotik topikal ini sebanyak 2.5% lebih lama dalam mengobati jerawat yaitu 10-12 minggu daripada mengggunakan 5%. Tetapi ini memiliki kuntungan yaitu tidak menimbulkan peradangan dan iritasi. Antibiotik lain yang dapat mengurangi populasi Propionum acne dan bakteri lain adalah metronidazole, gel erythromycin 3%, azelaic acid, dan sodium sulfacetamide10%.
  • Minyak Tea Tree
Menggunakan minyak tea tree memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengobati jerawat, namun lebih mampu mempertahankan keseimbangan mikroorganisme di kulit.
  • Sulfur 
Agen seperti asam salisilat, belerang, resorsinol, dan asam glikosilat dapat digunakan untuk mengatasi jerawat dengan memakan waktu yang lama. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Abbasi dkk., 2010 sulfur digunakan untuk menghambat pertumbuhan jamur, formulasi yang terdiri atas sulfur dan bahan-bahan lain dapat mengurangi jerawat dalam waktu antara 3-9 hari. Kombinasi % sulfur dan 10% sulfacetamide efektif mengurangi 78% total lesi dan 82.9% lesi peradangan pada wanita dengan kondisi jerawat sedang.
  • Tretinoin Topikal
Tretinoin  (seperti Retin-A, Stieva-A, asam Vitamin A), digunakan sebanyak 0.025-0.05% berguna untuk mengatasi jerawat. Penggunaan konsentrasi yang lebih tinggi jarang dapat ditoleransi oleh tubuh (Anonim, 2007). Penggunaan tunggal atau dikombinasikan dengan antibakteri, mampu menstimulasi pertumbuhan sel baru, mencegah penyumbatan pori-pori, memicu aliran sebum yang normal, dan menciptakan kondisi kulit yang lebih aerob sehingga menghambat pertumbuhan P. acnes.
  • Adapalene Topikal
Topikal adapalene adalah turunan asam naptoik. Pengurangan lesi dapat dicapai setealah menggunakan selama 3 sampai 12 minggu, dengan konsentrasi 47% dan 75% untuk lesi peradangan dan diantara 50% dan 74% untuk lesi tanpa peradangan.
  • Isotretinoin Topikal
 Isotretinoin (13 cis-retinoic acid) merupakan selektif retinoid. Tersedia dalam gel 0.05% atau krim 0.1%. Penggunaan Isotretionin ini akan mengurangi lesi dalam waktu 12 minggu.
  • Azelaic Acid (AA)
 AA secara alami memiliki efek komedolitik, antimikroba, dan antiperadangan. Senyawa topical ini dapat mengurangi lesi hingga 60.6% dan jerawat hingga 65.2% dalam waktu enam minggu.

3. Treatmen Laser dan Sinar Lain
  • Trichloroacetic acid (TCA)
Penelitian yang dilakukan oleh Sharquie dkk., 2013 mendapatkan hasil treatmen kimia dengan menggunakan TCA, wajah dicui 3-6 kali perhari selama lima hari dengan menggunakan potasium permanganat dan menggunakan sunscreen di pagi hari dan hidrokortison di malam hari, dapat mengurangi jerawat vulgaris rata-rata 60.5%, dengan minimal efek samping. Tetapi belum diketahui mekanisme menyembuhkan dari TCA ini, apakah mengurangi jumlah bakteri Propioni bacterium acnes dan bakteri lain penyebab jerawat, apakah mengurangi ukuran kelenjar minyak yang terlibat dalam pembentukkan jerawat, atau apakah mengubah reaksi imunologi tubuh.
3.ImunisasiPenelitian yang dilakukan oleh Nakatsuji dkk., 2008 menemukan bahwa jerawat dapat dicegah dan diobati dengan imunisasi dengan menggunakan antibodi P. acnes yang dilumpuhkan.
4.Prebiotik
Sebuah studi di UCLA mengkonduksikan dengan ilmuwan di Washington University di St. Louis dan Los Angeles Biomedical Research Institute telah menemukan bahwa jerawat mengandung bakteri yang terdiri atas strain bakteri “jahat” yang berkaitan dengan pimple dan strain “baik” yang melindungi kulit (Fitz-Gibon dkk,, 2013). Prebiotik yang dapat digunakan antara lain kosmetik yang mengandung buah berry dan bunga pinus

Pustaka:
  1. Abbasi, Muhammad Athar, Ayesha Kausar, Aziz-ur-Rehman, Hina Saleem, Sadia Muhammad Jahangir, Sabahat Zahra Siddiqui, dan Viqar Uddin Ahma. 2010. Preparation of new formulations of anti-acne creams and their efficacy. African Journal of Pharmacy and Pharmacology Vol. 4(6), pp. 298-303
  2. Anonim. 2007.  Acne Therapy Supplement to the Acne Drug Comparison Chart. The RxFiles Health Balakhrisnani, K.P., Nithya Narayanaswamyi, Punai Subba, dan Purnima E.H. 2011. Antibacterial activity of certain medicinal plants against acne-iducing bacteria. International Journal of Pharma and Bio Sciences.
  3. Fitz-Gibbon, Sorel, Shuta Tomida, Bor-Han Chiu, Lin Nguyen, Christine Du, Minghsun Liu, David Elashoff, Marie C Erfe, Anya Loncaric, Jenny Kim, Robert L Modlin, Jeff F Miller, Erica Sodergren, Noah Craft, George M Weinstock, dan Huiying L. 2013.mPropionibacterium acnes Strain Populations in the Human Skin Microbiome Associated with Acne.  Journal of Investigative Dermatology 133, 2152–2160
  4. Grice, Elizabeth A. dan Julia A. Segre. 2011. The skin microbiome. Review. Nature Reviews Microbiology 9, 244-253
  5. Kurek, Anna, Anna M., Gudniak, Anna Kraczkiewicz-Dowjat, dan Krystyna I. Wolska. 2011. New Antibacterial Therapeutics and Strategies. Minireview. Polish Journal of Microbiology. Vol. 60, No1, 3–12
  6. Johar, Datin Dr. Asmah, Chang Choong Chor, Ng Ting Guan, Leelavathi Muthupalaniappen, Noor Zalmy Azizan, Lee Yin Yin, Norraliza Md. Zain. Technology Assessment Section Medical Development Division Ministry of Health Malaysia. Academic Detailing Program Saskatoon City Hospital 701 Queen Street, Saskatoon.
  7. Kim, Jenny. 2009. Acne Vaccines: Therapeutic Option for the Treatment of Acne Vulgaris? Journal of Investigative Dermatology 128, 2353–2354
  8. Nakatsuji(a), Teruaki, Yu-Tsueng Liu, Cheng-Po Huang, Richard L Gallo, dan Chun-Ming Huang. 2008. Antibodies Elicited by Inactivated Propionibacterium acnes-Based Vaccines Exert Protective. Immunity and Attenuate the IL-8 Production in Human Sebocytes: Relevance to Therapy for Acne Vulgaris. Journal of Investigative Dermatology 128, 2451–2457.
  9. Nakatsuji(b), Mandy C. Kao, Jia-You Fang, Christos C. Zouboulis, Liangfang Zhang, Richard L. Gallo, dan Chun-Ming Huang. 2009. Antimicrobial Property of Lauric Acid Against Propionibacterium Acnes: Its Therapeutic Potential for Inflammatory Acne Vulgaris Teruaki. Journal of Investigative Dermatology 129, 2480–2488.
  10. Rathi, Sanjay K. 2011. ACNE VULGARIS TREATMENT : THE CURRENT SCENARIO. Indian J Dermatol. 56(1): 7–13.
  11. Rubenstein, Richard M. dan Sarah A. Malerich. 2014. Malassezia (Pityrosporum) Folliculitis. JCAD Online Editor.
  12. Schmidt, Nicholas dan Eugene H. Gans. 2011.Tretinoin: A Review of Its Anti-inflammatory Properties in the Treatment of Acne. J Clin Aesthet Dermatol. 4(11): 22–29. 
  13. Sharquie, Khalifa E., Adil A. Noaimi, dan Entesar A. Al-Janab. 2013. Treatment of Active Acne Vulgaris by Chemical Peeling Using TCA 35%. Journal of Cosmetics, Dermatological Sciences and Applications, 3, 32-35  
  14. Truter, Lise. 2009. Evidence-based Pharmacy Practise Acne Vulgaris. SA Pharmaceutical Journal



Infeksi Polimikrobia : Sinergis dan Kompleksitas Infeksi yang dilakukan oleh Lebih dari Satu Mikroorganisme

0
David C. Holzman Holzman, 2015, mengutip pernyataan W. Edward Swords dari Wake Forest School of Medicine, Winston-Salem, N.C. menyatakan bahwa infeksi polimikrobia berdampak pada penelitian terhadap tidak hanya hasil namun juga response terhadap pengobatan.  Usaha untuk mempelajari hal tersebut muncul di tahun-tahun terakhir ini karena “lebih cepat dan lebih komprehensif pembacaan [genomik] membuatnya mungkin untuk mengidentifikasi setiap sampel mikroorganisme tanpa harus menumbuhkan sesuatu di kultur." Hal ini penting untuk perkembangan kesehatan umum.
Diagnostik kultur secara konvensional kadang-kadang gagal menemukan infeksi pada masing-masing pasien, kata Swords. “Banyak infeksi tidak disebabkan karena koloni baru dari beberapa patogen, lebih karena pergantian populasi menjadi fase disbiosis, yaitu terjadi perubahan proporsi spesies, sehingga menyebabkan sakit." terangnya. Snergi polimikrobia dapat terjadi selama infeksi, merupakan efek yang ditimbulkan akibat dua mikroba atau lebih yang menyebabkan penyakit menjadi lebih buruk daripada efek yang ditimbulkan oleh mikroba tunggal [2].
Seperti penelitian yang dilakukan [6] menemukan bahwa Staphylococcus aureus merupakan koloni normal yang ada pada kulit manusia. Namun dengan adanya perubahan komposisi mikroorganisme pada kulit, kulit didominasi oleh mikroorganisme Corynebacterium mastitidis, S. aureus, dan Corynebacterium bovis menyebabkan terjadinya eksim pada kulit tersebut.
Contoh kasus sinergi yang lain adalah infeksi berbagai penyhakit akut yang disebabkan oleh Streptococcus aureus dan jamur oportunistik Candida albicans. Penelitan mekanisme penempelan kedua mikroorganisme secara bersamaan membentuk protein, Als3p, yang melibatkan mediasi interaksi antar kedua mikroorganisme ini [3]
Gambar Scanning Electron Microscopy mennjukkan ko-invasi hifa  Candida albicans hyphae (ungu) dan Staphylococcus aureus ke jaringan subepitelial. (Gambar courtesy of Mary Ann Jabra-Rizk, from Infect. Immun. 83:604–614, 2015. Dalam Holzman, 2015)

Penelitain lebih lanjut menyatakan bahwa protein Als3p memediasi penempelan S. aureus ke hifa C. albicans. Scanning electron and confocal microscopy menunjukkan bahwa kurangnya kedua mikroorganisme disebabkan karena kedua mikroorganisme ini tidak mampu menghasilkan protein Als3p. Kolonisasi kedua mikrooganisme di lidah tikus menunjukkan dapat memenetrasi subepitelium lidah tikus. Penelitian lain juga menunjukkan adanya sinergi polimikrobia ini menyebabkan kedua mikroorganisme lebih resisten terhadap antibiotik [1]
Karena mikroorganisme jarang beraksi secara sendiri dan sering lebih berbahaya ketika menginfeksi secara bersama yang terdiri atas berbagai macam mikroorganisme, penelitian interaksi polimikrobia menjadi strategi yang lebih potensial untuk mengatasi penyakit daripada mempelajari mikroorganisme patogen secara tunggal [5].

 Pustaka:
1. Harriott, Melphine M. dan Mairi C. Noverr. 2009. Candida albicans and Staphylococcus aureus Form Polymicrobial Biofilms: Effects on Antimicrobial R2.
2. Holzman, C. David. 2015. Polymicrobial Infections Abound: Synergies and Greater Complexities.The News Magazine of the American Society for Microbiology • Vol10,No2
3. Kobayashi, Tetsuro , Martin Glatz, Keisuke Horiuchi, Hiroshi Kawasaki, Haruhiko Akiyama, Daniel H. Kaplan, Heidi H. Kong, Masayuki Amagai, dan Keisuke Nagao. 2015. Dysbiosis and Staphylococcus aureus Colonization Drives Inflammation in Atopic Dermatitis. j.immuni.03.014
4. Mary Ann Jabra-Rizk, from Infect. Immun. 83:604–614. Dalam Holzman, C. David. 2015. Polymicrobial Infections Abound: Synergies and Greater Complexities.The News Magazine of the American Society for Microbiology • Vol10,No2
5. Murray, Justine L.,  Jodi L. Connell, Apollo Stacy, Keith H. Turner, dan Marvin Whiteley. 2014. Mechanisms of Synergy in Polymicrobial Infections Journal of Microbiology. Review. Vol. 52, No. 3, pp. 188–199
6. Nibal.I, Luigi, Brian Henderson, Syed Tariq Sadiq, dan Nikos Donos Genetic dysbiosis: the role of microbial insults in chronic inflammatory diseases. Review Article

Gut Bacteria and Obesity

0
Source of Probiotic:oldwayspt.org
Saluran pencernaan manusia terdiri atas berbagai macam bakteria, virus, dan archaea, semua mikroorganisme tersebut dikenal sebagai mikroorganisme pencernaan [2]. Jumlah mikroorganisme ini melebihi jumlah sel manusia dan diperkirakan memiliki gen 100 kali lebih banyak daripada gen manusia. Mikroorganisme pencernaan itu sendiri diperkirakan terdiri lebih dari104 jenis, dengan antara orang yang satu dan orang yang lain memiliki sekitar 1100 spesies mikroorganisme yang sama, dan sekitar 160 spesies mikroorganisme yang berbeda [7]. Terdiri atas dua filum utama yaitu: filum  Firmicutes (contohnya: Clostridium, Enterococcus, Lactobacillus, Ruminococcus) dan filum Bacteroidetes (contohnya: Bacteroides dan Prevotella), kemudian diikuti oleh filum Actinobacteria (contohnya: Bifidobacterium), dan Proteobacteria (contohnya: Helicobacter, Escherichia) [1].

Mikroorganisme di pencernaan berpengaruh terhadap obesitas [8]. Makanan tinggi lemak mengubah komposisi bakteri dengan menjadikan filum Firmicutes dan Proteobacteria menjadi lebih tinggi dan filum Bacteroidetes menjadi lebih rendah [3], mengindikasikan bahwa obesitas berkaitan dengan penurunan keragaman dan perubahan komposisi mikroorganisme di saluran pencernaan. Bacteroidetes dan Firmicutes merupakan bakteri utama yang berperan dalam proses pencernaan makanan yang sulit dicerna. Mereka membantu mencerna serat dan polifenol melalui sebuah mekanisme pemanenan energi-melalui metabolisme ysng kompleks, yang berdasar pada pertukaran nutrisi and ko-metabolisme [8].
Bakteri pencernaan dapat juga berefek pada obesitas melalui efek peningkatan peradangan kronis. Sebagai tambahan, infeksi Clostridium difficile dapat menjadi kemungkinan lain terjadinya obesitas [4]. Bakteri saluran pencernaan dapat berefek pada obesitas melalui mekanisme microbiota-gut brain, merupakan sinyal biokimia yang terjadi antara saluran pencernaan dan sistem saraf yang melibatkan mikrobiota saluran penncernaan [5]. Orang yang kelebihan berat badan memiliki feses dengan kandungan asam lemak rantai pendek (Short Chain Fatty Acids, SCFAS) lebih tinggi daripada orang normal, yaitu kadar propionat yang tinggi. Butirat dan propionat dilaporkan dapat menginduksi obesitas dengan mengatur hormon saluran pencernaan melalui free fatty acid receptor 3 (FFAR3) [8]. SCFAs mengaktifvasi intestinal gluconeogenesis (IGN) dengan mekanisme yang saling melengkapi. Butirat secara langsung mengaktifkan ekspresi gen IGN melalui peningkatan cAMP di enterosites. Propionat, beraksi sebagai FFAR3 agonist di periportal afferent neural system, menginduksi IGN melalui aksis microbiota-gut-brain. Sebuah sensor glukosa di saluran saraf mendeteksi glukosa yang diproduksi oleh IGN dan mengkomunikasikan ke otak melalui sistem saraf untuk medorong efek yang menguntungkan dari makanan yang diasup dan memetabolisme glukosa [9].

Conjugated linoleic acid (CLA) memiliki efek anti obesitas. Beberapa bakteri rumen memiliki kemampuan untuk membentuk CLA dari sumber-umber makanan, seperti produk makanan dari daging, susu full cream, alami, dan keju, yoghurt dan minyak tubuhan. Jumlah CLA manusia di dalam jaringan adipose diperkirakan berkaitan langsung dengan jumlah makanan yang diasup. Telah ditemukan enam strain (empat strain Bifidobacterium breve, sebuah strain Bifidobacterium bifidum, dan sebuah strain Bifidobacterium pseudolongum) memiliki kemampuan untuk memproduksi CLA yang berbeda dan mengkonjugasikan isomer α-linolenic acid dari linoleic acid bebas dan α-linolenic acid [3]. Lactobacillus rhamnosus PL60 merupak bakteri yang berasal asli dari tubuh manusia yang memiliki kemampuan memproduksi t10, c12-CLA.

Studi secara epidemiologi menunjukkan bahwa mengkonsumsi yogurt juga dapat melindungi tubuh dari obesitas, yang hal ini kemungkinan dikarenakan probiotik memediasi mekanisme bakteri [6]. Konsumsi bahan makanan yang mengandung probiotik (contohnya: lactobacilli dan bifidobacteria) dapat mengubah bakteri di pencernaan, yang tidak hanya dapat berefek pada kesehatan permukaan pencernaan tetapi juga jaringan yang lebih jauh dan kesehatan secara keseluruhan dan umur panjang oleh mekanisme mediasi imun. Prebiotik (contohnya: fruktan, yang termasuk turunan inulin, oligofruktose, dan fructooligosakaarida sintesis, dan probiotik juga dapat dikombinasikan, disebut sebagai sinbiotik, untuk memerangi obesitas [3].

Disamping probiotik, bakteri pencernaan yang lain juga dapat melindungi manusia dari obesitas. Filum Bacteroidetes, terutatama Bacteroides spp., diperkirakan berperan utama dalam memerangi peningkatan adipositas[8]. Interaksi bakteri yang lebih kompleks dan asosiasi metabolik terlibat dalam perlindungan memerangi peningkatan adipositas. Penelitian juga menunjukkan bahwa perlindungan bakteri terhadap peningkatan berat badan hanya mungkin terjadi ketika sang inang menjaga pola makan yang benar [3]. Yaitu terjadi keseimbangan antara genetika, pola hidup, dan mikrobiota di saluran pencernaan.

Pustaka:
1. Cani PD, Delzenne NM. 2009. Interplay between obesity and associated metabolic disorders: new insights into the gut microbiota. Curr Opin Pharmacol.9:737-43. Dalam Lopez-Legarrea, Patricia, Nicholas Robert Fuller, María Angeles Zulet, Jose Alfredo Martinez, dan Ian Douglas Caterson. 2014. Review Article  The influence of Mediterranean, carbohydrate and  high protein diets on gut microbiota composition in the treatment of obesity and associated inflammatory state. Asia Pac J Clin Nutr (3):360-368
2. Compare D, Coccoli P, Rocco A, Nardone OM, De Maria S, Carteni M et al. 2012. Gut-liver axis; the impact of gut microbiota on non alcoholic fatty liver disease. Nutr Metab Cardiovasc. 22:471-6. Dalam Lopez-Legarrea, Patricia, Nicholas Robert Fuller, María Angeles Zulet, Jose Alfredo Martinez, dan Ian Douglas Caterson. 2014. Review Article  The influence of Mediterranean, carbohydrate and  high protein diets on gut microbiota composition in the treatment of obesity and associated inflammatory state. Asia Pac J Clin Nutr (3):360-368
3. Lopez-Legarrea, Patricia, Nicholas Robert Fuller, María Angeles Zulet, Jose Alfredo Martinez, dan Ian Douglas Caterson. 2014. Review Article  The influence of Mediterranean, carbohydrate and  high protein diets on gut microbiota composition in the treatment of obesity and associated inflammatory state. Asia Pac J Clin Nutr (3):360-368
4. Leung, Jason, Bob Burke, Dale Ford, Gail Garvin, Cathy Korn, dan Carol Sulis. 2013. Obesity May Be Associated With Clostridium Difficile Infection in Low Risk Patients
5. Montiel-Castro, Augusto J., Rina M. González-Cervantes2,, Gabriela Bravo-Ruiseco, dan Gustavo Pacheco-López. 2013. Front. Integr. Neurosci. The microbiota–gut–brain axis: neurobehavioral correlates, health and sociality
6. Sanchez, Marina, Shirin Panahi, dan Angelo Trembla. 2015. Review Childhood Obesity: A Role for Gut Microbiota?. Review. Int. J. Environ. Res. Public Health 12, 162-175
7. Sekirov I, Russell SL, Antunes LC, Finlay BB. 2010. Gut microbiota in health and disease. Physiol Rev. 90:859-904. Dalam Lopez-Legarrea, Patricia, Nicholas Robert Fuller, María Angeles Zulet, Jose Alfredo Martinez, dan Ian Douglas Caterson. 2014. Review Article  The influence of Mediterranean, carbohydrate and  high protein diets on gut microbiota composition in the treatment of obesity and associated inflammatory state. Asia Pac J Clin Nutr (3):360-368
8. Zhang, Yu-Jie, Sha Li, Ren-You Gan, Tong Zhou, Dong-Ping Xu, dan Hua-Bin Li. 2015. Review Impacts of Gut Bacteria on Human Health and Diseases. Int. J. Mol. Sci. 16, 7493-7519
9.  Sanz Y, Santacruz A, Gauffin P. 2010. Gut microbiota in obesity and metabolic disorders. Proc Nutr Soc. 2010;69:434-41. Dalam Lopez-Legarrea, Patricia, Nicholas Robert Fuller, María Angeles Zulet, Jose Alfredo Martinez, dan Ian Douglas Caterson. 2014. Review Article  The influence of Mediterranean, carbohydrate and  high protein diets on gut microbiota composition in the treatment of obesity and associated inflammatory state. Asia Pac J Clin Nutr (3):360-368

Photoaging, Penuaan Dini Akibat sinar UV dan Perlindungannya

0

Cahaya matahari merupakan sumber sinar UV dan berkontribusi utama terhadapat penuaan diri akibat cahaya matahari. Radiasi sinar UV C (100 ke 290 nm) hampir diserap semua oleh lapisan ozon dan tidak berefek ke kulit. Radiasi sinar UV B (290 ke 320 nm) berefek pada lapisan superfisial kulit (epidermis) dan dapat menyebabkankan peradangan kulit. Paparan cahaya matahari antara pukul 10 pagi hingga 2 siang menngandung sinar UV, tidak dapat menembus kaca, dan dapat mengakumulasi pada setiap orang sebesar 70% sinar. Radiasi sinar UV A (320 ke 400 nm) dapat menembus atmosfer dan berperan dalam proses penuaan dini, kerusakan matta (termasuk katarak), dan kanker kulit. Sinar UV A dapat menembus epidermis dan menekan sistem imun, mengurangi kemampuan tubuh kita untuk merangi sinar UV A itu sendiri dan maladies yang lain (skincancer.org). 
Paparan sinar UV ini maksimal terjadi pada pukul 8 pagi hingga pukul dua siang.Penuaan diri akibat sinar ultra violet (UV) menurut Godic, dkk., 2014 dapat dipengaruhi oleh sinar UV itu sendiri dan jumlah melanin di kulit (jenis kulit). Sinar UV dapat menyebabkan kerusakan deoxiribo nucleic acid (DNA) sel permukaan kulit kita baik secara langsung ataupun tidak langsung dan dapat mengakibatkan kerusakan sel yang disebut sebagai keratinosites dan fibroblas yaitu berupa kerusakan kolagen pada matriks ekstraseluler dan mematikan sintesis kolagen yang baru.Menurut Godic, dkk., 2014 radiasi sinar UV merupakan faktor lingkungan yang penting dalam perkembangan kanker kulit dan penuaan dini. Produk utama yang diakibatkan oleh sinar UV adalah oksidasi DNA secara langsung atau produksi radikal bebas yang membentuk dan menguraikan dengan cepat tetapi dapat menghasilkan efek yang memakan waktu jam, hari, atau bahkan tahun. UV B umumnya menyebabkan dimer pirimidin siklobutan. UV A, di sisi lain, merupakan penyebab utama kerusakan DNA secara tidak langsung dengan adanya produksi oksigen reaktif jangaka pendek (reactive oxygen species, ROS) seperti oksigen tunggal, superoksida, dan H2O2 yang diproduksi oleh tubuh manusia sendiria melalui photosensitizers. ROS inilah yang mengakibatkat kulit stress ketika pembentukkannya melebihi pertahanan kulit. 
 
(Pandel, dkk., 2013)

Pengurangan stress kulit dapat dilakukan dengan dua tahap yaitu menurunkan papasra sinar UV dan meningkatkan pertahanan kulit dengan menggunakan antioksidan untuk melawan ROS. Akibat dari kerusakan ini mengakibatkan kerusakan kulit, terbentuk noda gelap,penyusutan kulit dan kerutan.
Perlindungan dari dalam kulit hanyalah melanin dan enzim antioksidan. Melanin merupakan deposit pigmen yang diproduksi oleh melanosites, pertahanan kulit utama untuk melindungi DNA-nya, tetapi ini tidak dapat melindungi kulit secara total. Orang yang memiliki nelanin yang rendah, yang dapat terpapar sinar UV secara mudah, dan memiliki warna kornea mata dan rambut yang cerah lebih beresiko terhadap berkembangnya melanoma, kanker kulit, dan karsinoma sel skuamosa. Perlindungan kedua adalah proses perbaikan, yaitu membuang biomulekul-biomolekul yang rusak sebelum mereka terakumulasi dan kehadirannya mengaggu metabolisme sel kulit. Banyak penelitian menyatakan bahwa antioksidan dapat diasup dari luar atau pun antioksidan yang berasal dari dalam tubuh kita. Kulit memiliki akses ke semua antioksidan dari dalam tubuh baik enzim ataupun non enzim. Beberapa para ahli berhipotesis bahwa pertahanan yang berasal dari antioksidan ini dipengaruhi oleh vitamin dan nutrisi yang kita asup dan dapat dikombinasikan antar antioksidan tersebut untuk dapat dikerjakan secara simultan 

Antioksidan Pelindung Kulit 
Sunblock fisik 
Sunblock fisik yang utama adalah zinc oksida dan titanium dioksida. Kedua nahan ini memiliki spektrum yang luas, dapat melindungi dari UVA dan UVB, aman digunakan baik oleh oranga tua maupun anak-anak, namun dapat menynebabkan warna kulit tidak merata akibat terjadi pemutihan pada area yang menggunakan sunblok. 
Sunscreen  
Penggunaan sunscreen disarankan yang memiliki spektrum yang luas, yang memiliki sun protector factor, SPF di atas 15 dan dapat melindungi kulit dari paparan sinar UV A dan UV B. Syarat-syarat sunscreen yang lain adalah: 1) Tahan terhadap cahaya, udara, dan kelembaban dan tidak terurai akibat kondisi tersebut atau larut karena keringat; 2) Tidak beraun dan anti iritasi; 3) ber-pH netral atau tidak terpengaruh asam-basa kulit; 4) Tidak terserap dengan cepat oleh kulit.  
SPF Alami 
Bahan-bahan yang mengandung SPF alami antara lain minyak biji wortel mengandung SPF 38 dan 40, minyak kedelai SPF 10, minyak jojoba SPF 4.
Konsumsi Teh Hijau
Teh hijau mengandung polifenol dengan empat komponen utama yaitu epicatechin (EC), epicatechin-3-gallate (ECG), epigallocatechin, (EGC), dan epigallocatechin-3-gallate (EGCG). Penyerapan UV A dan UV B oleh teh rendah,oleh karena itu teh baik digunakan secara sistemik (diminum) atau digunakan pada tubuh beberapa saat setelah terpapar radiasi UV. Selain mengkonsumsi teh hijau, konsumsi anggur, delima, dan buah beri juga merupakan sumber antioksidan.
Flavonoid 
Flavonoid merupakan molekul polifenolik yang terdiri atas 15 atom karbon dan larut di air. Flavonoid ini dapat dibagi menjadi enam subtipe utama yaitu kalkon, flavon, isoflavonoid, flavanon, antosantin, dan atosianin. Senyawa ini bertanggung jawab pada pembentukkan warna pada tanaman. Pada tanaman itu sendiri flavonoid berfungsi untuk menyaring sinar UV Flavonoid banyak terdapat pada bawang, parsley, blueberry, pisang, dan coklat hitam
vitamin E 
Vitamin E lebih baik di minum sebelum kita terpapar sinar UV. Vitamin E ini termasuk di dalamnya alpha-tocopherol (alpha-T), dan analog asetatnya, alpha-tocopherol acetate (alpha-TAc) mengurangi kerusakan DNA atau pun apoptosis akibat sinar UV (Maalouf, 2002) 
Vitamin C 
Vitamin C melindungi sel dari paparan sinarUV dengan mencegah serangan bunuh diri atau apoptosis sel, Selain itu vitamin C juga mengaktifkan kembali sintesis protein pada sel yang sudah berhenti.
Lycopen 
Lycopen merupakan peigmen yang bertanggung jawab terhadap warna merah pada tomat atau buag lain yang matang.Lycopen ini memiliki sifat antioksidan. Meskipun tidak dipengaruhi oleh aktifitas provitamin A, lycopen dapat menghambat kerusakan sel akibat oksidator hampir dua kali lipat daripada beta carotene. Tomat dan hasil olahan buah tomat merupakan sumber lycopen yang utama.  Lycopene yang terdapat pada produk olahan tomat lebih daripada tomat segar. Hal ini karena terjadi pemecahan dinding sel dan matrik sel tomat pada saat pemrosesan tomat tersebut. 
Quercetin 
Querctin, turunan dari flavonoid tanaman, terbukti mengading antioksidan potensial dan anti peradangan. Quercetin secara signifikan membantu mempertahankan sel dari serangan bunuh diri (apoptosis) dan mempertahankan morfologi sel dengan mengatur dan mempertahankan sitoskleton (Yi Chen, dkk. 2013).  
Glutathione
Glutathione (GSH) memrankan peranan yang penting dalam mengelola keseimbangan redoks sel dan melindungi sel dari kerusakan akibat oksidatif. Perlindungan GSH ini terjadi dengan paparan UV B menginduksi pengurangan GSH, mengurangi aktifitas enzim γ-glutamate cysteine ligase (GCL), sebuah enzim terbatas yang diprodksi oleh GSH. Papaparan UV B pemecahan GCL yang menyebabkan penurunan keratinosites (Zhu dan Tim 2004).
CoQ10 
Coenzyme-Q10 (CoQ10 secara alami dibentruk di tubuh, tetapi kekurangan di tubuh dapat terjadai karena penyakit, diet rendah lemak, ataupu pengginaan CoQ10 yang tinggi di dalam tubuh. Kombinasi  CoQ10 dengan sumber antioksidan lain dapat digunakan untuk memperlambat penuaan, sebagai antioksidan untuk memperlambat penuaan akibat paparan sinar UV (mayoclinic.org). 
Squalene 
Kandungan squalen yang tinggi (dari munyak zaitun) di beberapa produk sunscreen dapat elindungi lemak kulit yang sensitif. Squalene merupakan pelindung lemak yang paling penting.  
Allantoin  
Allantoin merupakan nukleotida yang secara alamo terjadi di tubuh dan dapat menyerap radiasi UV yang dapat merusak DNA sel kulit. Allantoin merupakan bahan yang diekstrak dari tanaman yang berguna untuk pengobatan, penyejuk, dan anti iritasi.

Selain dengan menggunakan antioksidan di atas, menggunakan topi dan pelindung kulit, kaca mata, berteduh di tempat teduh, mengaplikasikan sunscreen 30 menit sebelum aktivitas di luar juga dapat mengurangi atau mencegah photoaging.

Pustaka:

Godic, Aleksandar, Borut Poljšak, Metka Adamic, dan Raja Dahmane. The Role of Antioxidants in Skin Cancer Prevention and Treatment. Review Article. Oxidative Medicine and Celluler Longevity. Vol:6  

http://www.mayoclinic.org

http://skincancer.org

Lin Jr, Qin HH, Wu WY, He SJ, Xu JH. 2014. Vitamin C protects against UV irradiation-induced apoptosis through reactivating silenced tumor suppressor genes p21 and p16 in a Tet-dependent DNA demethylation manner in human skin cancer cells. Cancer Biother Radiopharm 29(6):257-64

Maalouf S, El-Sabban M, Darwiche N, dan Gali Muntasib H. 2002. Protective effect of vitamin E on ultraviolet B light-induced damage in keratinocytes. Jul;34(3):121-30

Pandel, Ruza., Borut Polsjak, Alexander Godic, dan Dahmane Raja. 2013. Skin Photoaging and the Role of Antioxidants in Its Prevention. ISRN Dermatol. : 930164.

Shi J dan Le Maguer M. 2000. Lycopene in tomatoes: chemical and physical properties affected by food processing. Crit Rev Biotechnol 20(4):293-334.

Yi Chen-Jing, Ren-Yu Hu, dan Hsiu-Chuan Chou. 2013. Quercetin-induced cardioprotection against doxorubicin cytotoxicity. Journal of Biomedical Science 20:95

Zhu, Ming dan G. Tim Bowden. 2004. Molecular Mechanism(s) for UV-B Irradiation–Induced Glutathione Depletion in Cultured Human Keratinocytes. Photochemistrt and Photobiology pg(s) 191-196

Megurangi Biofilm dan Plak Gigi

0
Pelekatan mikroba di gigi
Pembentukkan lapisan di gigi diawali dengan pelekatan protein di enamel gigi yang disebut sebagai pelikel. Pelikel ini mengandung albumin, lisozim, glikoprotein, fosfoprotein, lemak, and gingival crevice fluid (Gomes, dkk. 2011). Mikroorganisme akan mendekati, melekat, dan membentuk koloni beberapa jam setelah terbentuk pelikel untuk membentuk biofilm.

Secara umum, biofilm bersifat: 1) Dilindungi oleh matriks ekstra seluler sehingga sangat resisten terhadap antibiotik, senyawa antimikroba, dan sistem pertahanan alami yang diproduksi oleh manusia, tidak dapat dihilangkan hanya dengan berkumur atau terkena aliran air; 2) Memiliki mekanisme kuorum sensing, yaitu komunikasi antar mikrobia di dalam biofilm tersebut untuk menentukkan ekspresi gen secara tunggal; 3) Terjadi pertukaran gen antar mikroorganisme di dalam  tersebut sehingga memungkinkan bakteri semakin kuat dan tahan terhadap tekanan dari luar, seperti bahan kimia, tekanan fisik seperti gosok gigi, antibiotik, dsb (Jill S., dkk. 2003).
Mikroorganisme di gigi (Gomes, 2011)

Menurut penelitian yang dilakukan oleh 14.17, mikroorganisme yang sering didapati pada gigi yang sakit adalah Tannerella forsythensis (yang sebelumnya dikenal sebagai Bacteroides forsythus), Porphyromonas gingivalis dan Actinobacillus actinomycetemcomitans yang berkaitan dengan mikroorganisme tingkat sedang yaitu C. rectus, E. nodatum, F. nucleatum, P. intermedia/
nigrescens, P. micros, S. intermedium, and T. denticola
yang kemungkinan dapat menjadi mikroorganisme patogen.  Streptococcus oralis, Actinomyces naeslundii, Streptococcus mitis, Streptococcus downei dan Streptococcus sanguinis juga merupakan mikroorganisme yang sering terdapat pada gigi menurut penelitian Schlafer S., dkk. 2011. Pelekatan mikroorganisme pada pelikel dipengaruhi oleh pH, suhu, tingkat nutrisi, kekuatan ion, hidrofobsitas pelikel, strain mikroorganisme, struktur permukaan mikroorganisme, dsb.
Hidrofobisitas pelikel mempengaruhi pelekatan mikroorganisme ke gigi tersebut. Struktur sel seperti fimbriae, protein lain, komponen bakteri gram positif (asam mikolat) lebih mudah menempel pada permukaan pelikel yang bersifat hidrofobik. Sedangkan struktur sel mikrobe yang banyak mengandung lipopolisakarida, eksopolisakarida lebih mudah melekat pada permukaan pelikel yang bersifat hidrofilik.
Lapisan biofilm semakin lama akan semakin matang dan kompleks. Plak merupakan lapisan biofilm yang kompleks dan terlihat oleh mata.

Menghilangkan Biofilm 
Membersihkan sela-sela gigi
Hal ini dkikarenakan kebanyakan sikat gigi tadap dapat mengakses semua bagian gigi. Sela-sela gigi merupakan bagian dimana ia berakumulasi, berkembang biak, tanpa adanya gangguan. Plak yang terbentuk pada sela-sela gigi ini dapat menyebabkan peradangan dan perdarahan dan meningkatkan resiko penyakit gigi (Jacquelyn, dkk. 2012). 

Mengkonsumsi Susu
Protein susu seperti laktoferin telah menunjukkan kemampuannya untuk menghambat pembentukkan koloni bakteri di permukaan gigi, terutama gigi yang sudah terlapisi pelikel. Juga protein osteopontin, bovine milk osteopontin (OPN), glikoprotein dengan kandungan fosfor yang tinggi, dapat dengan kuat mengurangi pembentukkan biofilm di gigi dalam uji secara in vitro (Schlafer S., dkk. 2012).

Mencegah pembentukkan koloni gigi
Menurut penelitian yang dilakukan oleh menggunakan air bersih atau tidak terkontaminasi, dapat mencegah pembentukkan biofilm. Berkumur dengan obat kumur yang mengandung bahan kimia seperti di bawah ini juga dapat mencegah pembentukkan biofilm: larutan klorin maksimal 5.25%, Hidrogen peroksida (H2O2) contohnya Sterilex ultra dan sanosil-used, Asam sitrat 0.224%, Iodine, glutaraldehyde T4, Listerine, dan sodium fluorida.
Menggunakan enzim pelarut matriks biofilm
Beberapa enzim yang digunakan untuk melarutkan matriks biofilm antara lain Bromelain (enzim protease), Dispersin B (enzim hidrolase likosida), DNase I, and RNase, digunakan secara individual ataupun bersama-sama dapat melepaskan biofilm Streptococcus mutans, yang dilakuakan oleh A. Rmaile, 2013. Penggunaan ini dilarutkan dalam cairan dan digunakan dengan airfloss burst.
Penggunaan agen Pereduksi dan Pengoksidasi
Bakteri baik (probiotik)
Probiotik yang terdapat pada yoghurt seperti Bifidobacterium dan Lactobacillus menurup penelitian Haukioja dapat berkompetisi dengan bakteri mulut untuk membentuk biofilm, berkompetisi dalam mendapatkan nutrisi, memproduksi senyawa antibakteri,  memicu sistem imun tubuh dengan meningkatkan produksi IgA, menghambat pertumbuhan bakteri dengan menginduksi produksi sitokinin.
Menghambat komunikasi antar mikroorganisme dalam biofilm
Fotoaktivasi mikroorganisme
Menurut laporan 24 penambahan senyawa perduksi, seperti methylene blue, ke gigi yang terinfeksi dapat menghambat pertumbuhan P. Gingivalis.
Mengurangi pembentukkan Cairan Sulkus Gingiva (CSG)
Cairan sulkus gingiva, atau yang dikenal sebagai Cervicular Gingiva Fluid, merupakan eksudat yang terbentuk di sela-sela gigi yang berasal dari pembuluh darah. Karena berasal dari pembuluh darah, maka cairan ini mirip dengan cairan pembuluh darah. Mengurangi CSG dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa anti radang.
Mengontrol pH biofilm
Yang dapat dilakukan dengan menggunakan flouride, mengurangi konsumsi gula, dan banyak mengkonsumsi makanan yang bersifat basa
Kombinasi antibiotik
Dapat menggunakan antibiotik sistemik seperti amoksilin, metronidazole, tetrksilin, doksisiklin, dan Augmentin. Atau dapat juga menggunakan antimikroba seperti tetraksilin, metronidazole, dan gel minosklin, potongan klorheksidin, dan polimer doksisiklin. Penggunaan senyawa antibiotik topikal pada produk-produk perawatan gigi dan mulut seperti klorheksidin, triklosan, triclosan, cetylpyridinium chloride, minyak esensial, dan berbagai macam garam logam seperti senysawa zinc, dan florida juga dapat dilakukan.  Perpaduan penggunaan senyawa-senyawa tersebut juga dapat digunakan untuk mengatasi mikroba yang resisten atau agar senyawa tersebut bekerja secara sinergis untuk mengatasi kuman penyakit (Gomes, dkk., 2011).    

Menggunakan senyawa kimia alami
Bedasarkan laporan Gomes dkk.2011, beberapa senyawa alami mampu menghambat pertumbuhan beberapa bakteri di biofilm seperti cengkih, sirih, . Jangkauan luas dari metabolit sekunder burfungsi untuk melindungi tanaman tersebut dari mikroba patogen dan dari kerusakan induksi parasit. Senyawa ini dapat digunakan untuk mengatasi infeksi manusia.  
Menggunakan farnesol
Farnesol merupakan minyak esensial yang dihasilkan oleh beberpa organisme seperi jeruk, Pluchea dioscoridis, jagung dan pittosporum undulatum, yang memungkinkan melindungi tanaman dari kerusakan akibat parasit (ncbi.nlm.nih.gov), dan juga dapat diproduksi oleh beberapa organisme seperti kamir Candida albicans. Senyawa ini telah digunakan selama beberapa tahun untuk tujuan teraputik, kosmetik, aroma dan pelindung makanan. Dengan kelengkapan molekul yang berfungsi sebagai antimikroba, telah dipelajari sebagai anti mikroba memerangi mikroba dan igunakan sebagai alternatif antibiotik (Gomes, dkk., 2011).
Mengkonsumsi Licorice
Likorice seringkali ditambahkan pada pasta gigi dan obat kumur. Bahan aktif dalam likorice dapat menghambat pertumbuhan plak. Tetapi likorice ini harus dihindari pada penderita tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.  
Teh Dandelion
Dandelion (Taraxacum officinale) umumnya dibuat teh dan mengandung biotin, kalsium, kolin, lemak, iron, magnesium, niasin, PABA, phosphorus, proteins, sulfur, zinc, dan berbagai vitamin. Minum teh dandelion sangat bermanfaat untuk mengobati peradangan gusi yang juga dapat menyebabkan CSG (Charantimath dan Rakesh. 2011). 
Peppermint
Peppermint (Meutha piperita) mengandung mentol, metil asetat, asam tanik acid, dan vitamin C.  Menggunakan pasta gigi atau obat kumur yang mengandung peppermint depat menghambat penyerapan besi oleh bakteri, yang dapat mengurangi pertumbuhan bakteri. Penggunaan minyak peppermint juga membantu meredakan peradangan gusi (Charantimath dan Rakesh. 2011).
Menggunakan minyak alamiMinyak alami telah digunakan di beberapa orang Indian untuk berkumur dengan kemampuan bahwa kekenta;an minyak dapat menghambat pelekatan bakteri dan penggumpalan plak (Thaweboon, 2011). Penelitian yang dilakukan oleh Sroisiri dkk, 2011 menemukan bahwa penggunaan minyak kelapa dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans dan Candida albicans. Minyak wijen memiliki sifat antibakteri terhadap Streptococcus mutans,  Sedangkan minyak biji bunga matahari memilili sifat anti jamur untuk memerangi Candida albicans.
Konsumsi NAC
 N-acetylcysteine (NAC) merupakan asam amino dengan antioksidan yang kuat, antimukolitik dan antibakteri, dan  oleh manusia NAC ini akan diubah menjadi sistein (Gomes, dkk, 2011). Sistein ini juga mempu menghancurkan atau menghambat ekstra polisakarida, EPS, yang merupakan komponen utama pada biofilm.  NAC ini banyak ditemukan pada makanan seperti daging seperti ayam, sosis, bebek, ikan, dan produk olahan susu seperti keju ricotta, keju cottage, yogurt dan telur (livestrong.com)
Menggunakan enzim pelarut matriks biofilm
Beberapa enzim yang digunakan untuk melarutkan matriks biofilm antara lain Bromelain (enzim protease), Dispersin B (enzim hidrolase likosida), DNase I, and RNase, digunakan secara individual ataupun bersama-sama dapat melepaskan biofilm Streptococcus mutans, yang dilakuakan oleh A. Rmaile, 2013. Penggunaan ini dilarutkan dalam cairan dan digunakan dengan airfloss burst.
Penggunaan agen Pereduksi dan Pengoksidasi
Bakteri baik (probiotik)
Probiotik yang terdapat pada yoghurt seperti Bifidobacterium dan Lactobacillus menurup penelitian Haukioja dapat berkompetisi dengan bakteri mulut untuk membentuk biofilm, berkompetisi dalam mendapatkan nutrisi, memproduksi senyawa antibakteri,  memicu sistem imun tubuh dengan meningkatkan produksi IgA, menghambat pertumbuhan bakteri dengan menginduksi produksi sitokinin.
Menghambat komunikasi antar mikroorganisme dalam biofilm
Fotoaktivasi mikroorganisme
Menurut laporan 24 penambahan senyawa perduksi, seperti methylene blue, ke gigi yang terinfeksi dapat menghambat pertumbuhan P. Gingivalis.
Mengurangi pembentukkan Cairan Sulkus Gingiva (CSG)
Cairan sulkus gingiva, atau yang dikenal sebagai Cervicular Gingiva Fluid, merupakan eksudat yang terbentuk di sela-sela gigi yang berasal dari pembuluh darah. Karena berasal dari pembuluh darah, maka cairan ini mirip dengan cairan pembuluh darah. Mengurangi CSG dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa anti radang.
Penambahan basa pembentuk nutrisi, yaitu arginin
Menghambat enzim mikroorganisme
Mengontrol pH biofilm
Yang dapat dilakukan dengan menggunakan flouride, mengurangi konsumsi gula, dan banyak mengkonsumsi makanan yang bersifat basa
Kombinasi antibiotik
Dapat menggunakan antibiotik sistemik seperti amoksilin, metronidazole, tetrksilin, doksisiklin, dan Augmentin.15  Atau dapat juga menggunakan antimikroba seperti tetraksilin, metronidazole, dan gel minosklin, potongan klorheksidin, dan polimer doksisiklin. Penggunaan senyawa antibiotik topikal pada produk-produk perawatan gigi dan mulut seperti klorheksidin, triklosan, triclosan, cetylpyridinium chloride, minyak esensial, dan berbagai macam garam logam seperti senysawa zinc, dan florida juga dapat dilakukan.  Perpaduan penggunaan senyawa-senyawa tersebut juga dapat digunakan untuk mengatasi mikroba yang resisten atau agar senyawa tersebut bekerja secara sinergis untuk mengatasi kuman penyakit (Gomes, dkk., 2011).    

Menggunakan senyawa kimia alami
Bedasarkan laporan Gomes dkk.2011, beberapa senyawa alami mampu menghambat pertumbuhan beberapa bakteri di biofilm seperti cengkih, sirih, . Jangkauan luas dari metabolit sekunder burfungsi untuk melindungi tanaman tersebut dari mikroba patogen dan dari kerusakan induksi parasit. Senyawa ini dapat digunakan untuk mengatasi infeksi manusia.  
Menggunakan farnesol
Farnesol merupakan minyak esensial yang dihasilkan oleh beberpa organisme seperi jeruk, Pluchea dioscoridis, jagung dan pittosporum undulatum, yang memungkinkan melindungi tanaman dari kerusakan akibat parasit (ncbi.nlm.nih.gov), dan juga dapat diproduksi oleh beberapa organisme seperti kamir Candida albicans. Senyawa ini telah digunakan selama beberapa tahun untuk tujuan teraputik, kosmetik, aroma dan pelindung makanan. Dengan kelengkapan molekul yang berfungsi sebagai antimikroba, telah dipelajari sebagai anti mikroba memerangi mikroba dan igunakan sebagai alternatif antibiotik (Gomes, dkk., 2011).
Mengkonsumsi Licorice
Likorice seringkali ditambahkan pada pasta gigi dan obat kumur. Bahan aktif dalam likorice dapat menghambat pertumbuhan plak. Tetapi likorice ini harus dihindari pada penderita tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.  
Teh Dandelion
Dandelion (Taraxacum officinale) umumnya dibuat teh dan mengandung biotin, kalsium, kolin, lemak, iron, magnesium, niasin, PABA, phosphorus, proteins, sulfur, zinc, dan berbagai vitamin. Minum teh dandelion sangat bermanfaat untuk mengobati peradangan gusi yang juga dapat menyebabkan CSG (Charantimath dan Rakesh. 2011). 
Peppermint
Peppermint (Meutha piperita) mengandung mentol, metil asetat, asam tanik acid, dan vitamin C.  Menggunakan pasta gigi atau obat kumur yang mengandung peppermint depat menghambat penyerapan besi oleh bakteri, yang dapat mengurangi pertumbuhan bakteri. Penggunaan minyak peppermint juga membantu meredakan peradangan gusi (Charantimath dan Rakesh. 2011).
Menggunakan minyak alamiMinyak alami telah digunakan di beberapa orang Indian untuk berkumur dengan kemampuan bahwa kekenta;an minyak dapat menghambat pelekatan bakteri dan penggumpalan plak (Thaweboon, 2011). Penelitian yang dilakukan oleh Sroisiri dkk, 2011 menemukan bahwa penggunaan minyak kelapa dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans dan Candida albicans. Minyak wijen memiliki sifat antibakteri terhadap Streptococcus mutans,  Sedangkan minyak biji bunga matahari memilili sifat anti jamur untuk memerangi Candida albicans.
Arginin
Arginine merupakan salah satu asam amino alami. Beberapa makanan sumber arginin adalah keju, daging merah, ayam, kalkun, bebek, produk susu, lentil, kedela dan berbagai macam kacang-kacangan dan biji-bijian. Arginine dapat membantu memecah plak dan menghidari penyakit gigi dan gusi (food.ndtv.com).
Konsumsi NAC
 N-acetylcysteine (NAC) merupakan asam amino dengan antioksidan yang kuat, antimukolitik dan antibakteri, dan  oleh manusia NAC ini akan diubah menjadi sistein (Gomes, dkk, 2011). Sistein ini juga mempu menghancurkan atau menghambat ekstra polisakarida, EPS, yang merupakan komponen utama pada biofilm.  NAC ini banyak ditemukan pada makanan seperti daging seperti ayam, sosis, bebek, ikan, dan produk olahan susu seperti keju ricotta, keju cottage, yogurt dan telur (livestrong.com)


Pustaka:
Charantimath, Shivayogi dan Rakesh Oswal. 2011. Herbal Therapy in Dentistry: A Review. Innovative Journal of Medical and Health Science 1: 1 – 4. 
Gomes, F.,  B. Leite, P. Teixeira dan R. Oliveira. 2011. Strategies to control Staphylococcus epidermidis biofilms.Science against microbial pathogens: communicating current research and technological advances 
Haukioja, Anna. 2010. Probiotics and Oral Health. Eur J Dent ; 4(3): 348–355.
http://www.livestrong.com
http://food.ndtv.com
Jacquelyn L. Fried, RDH, MS. 2012. Interdental Cleansing
Jill S. Nield-Gehrig, RDH, MA. 2003. Dental Plaque Biofilms  
pubchem.ncbi.nlm.nih.govSchlafer S, Raarup MK, Meyer RL, Sutherland DS, Dige I, et al. 2011) Landscapes in a Novel Five-Species Model of Early Dental Biofilm. PLoS One 6: e25299.
Rmaile, A. 2013. 0037 Disruption of Dental Biofilms by Matrix-degrading Enzymes. British Society for Oral and Dental Research :9-11
Schlafer S, Raarup MK, Wejse PL, Nyvad B, Sta ¨dler BM, et al. 2012. Osteopontin Reduces Biofilm Formation in a Multi-Species Model of Dental Biofilm. PLoS ONE 7(8): e41534
Reddy, Padma  M. Control & Prevention of Biofilm In Dental Office. National Academy of DensitryThaweboon, Sroisiri, Jurai Nakaparksin, Boonyanit dan Thaweboon.  2011. Effect of Oil-Pulling on Oral Microorganisms in Biofilm Models.  Asia J Public Health 2(2): 62-66
www.biotechnologie.de








Pustaka:
Charantimath, Shivayogi dan Rakesh Oswal. 2011. Herbal Therapy in Dentistry: A Review. Innovative Journal of Medical and Health Science 1: 1 – 4. 
Gomes, F.,  B. Leite, P. Teixeira dan R. Oliveira. 2011. Strategies to control Staphylococcus epidermidis biofilms.Science against microbial pathogens: communicating current research and technological advances 
Haukioja, Anna. 2010. Probiotics and Oral Health. Eur J Dent ; 4(3): 348–355.
http://www.livestrong.com
Jacquelyn L. Fried, RDH, MS. 2012. Interdental Cleansing
Jill S. Nield-Gehrig, RDH, MA. 2003. Dental Plaque Biofilms  
pubchem.ncbi.nlm.nih.govSchlafer S, Raarup MK, Meyer RL, Sutherland DS, Dige I, et al. 2011) Landscapes in a Novel Five-Species Model of Early Dental Biofilm. PLoS One 6: e25299.
Rmaile, A. 2013. 0037 Disruption of Dental Biofilms by Matrix-degrading Enzymes. British Society for Oral and Dental Research :9-11
Schlafer S, Raarup MK, Wejse PL, Nyvad B, Sta ¨dler BM, et al. 2012. Osteopontin Reduces Biofilm Formation in a Multi-Species Model of Dental Biofilm. PLoS ONE 7(8): e41534
Reddy, Padma  M. Control & Prevention of Biofilm In Dental Office. National Academy of DensitryThaweboon, Sroisiri, Jurai Nakaparksin, Boonyanit dan Thaweboon.  2011. Effect of Oil-Pulling on Oral Microorganisms in Biofilm Models.  Asia J Public Health 2(2): 62-66
www.biotechnologie.de












 

Popular Posts